air hujan adalah salah satu dambaan terbesar para petani di desa tersebut, karena di desa tersebut hampir tidak ada irigasi air buat persawahan. inilah kesengsaraan masyarakat yang ada di daerah tersebut, apabila tidak ada hujan maka juga tidak ada tanaman yang hidup, hanya beberapa masyarakat di desa tersebut yang mengambil air dari sungai untuk bercocok tanam dengan cara memakai mesin penyedot air.
dengan keadaan perekonomian yang memprihatinkan tersebut masyarakat sekitar juga kurang akan pentingnya pendidikan untuk putra-putrinya. mereka lebih memntingkan fasilitas-fasilitas seperti montor, televisi, dan lain sebagainya.
walau keadaan yang mencekam seperti itu tidak semua masyarakat terlena dengan keberadaan ekonomi yang lemah. buktinya ada salah satu keluarga yang sangat sederhana, tetapi keluarga tersebut sangat peduli dengan pendidikan putra-putrinya dan selalu mengorbankan apapun yang mereka punyai demi bisa menyekolahkan putra-putrinya. menurut beliau (ayah dan ibu dari keluarga tsb) pendidikan itu sangat penting untuk menyadarkan dan membaikkan seorang anak, dan pendidikan itu niatnya yang baik dan jangan mengharapkan untuk mencari pekerjaan belaka, tapi niatillah dengan iklas mencari ridho allah dan untuk menghilangkan kebodohan umat manusia.
dengan kondisi perekonomian yang mencekik keluarga tersebut tidak lalu menyerah dengan keadaan, tetapi bangkin dengan keadaan tersebut. ini terbukti dari pendidikan putra-putrinya yang lumayan baik dari pada keluarga yang lain, bahkan lebih baik dari keluarga yang diatasnya.
anak pertamanya yang pada waktu itu juga sudah bisa menamatkan SLTP dan sesudah lulus SLTP dia meneruskan untuk mondok pesantren disalah satu daerah yang dijuluki kota santri, karena di daerah tersebut banyak sekali santri-santri dan juga pondok pesantren-pondok pesantren hingga empat tahun, dan setelah itu dijodohkan dengan salah satu santri di pondok tersebut.
anak yang kedua lebih tinggi pendidikanya dari pada anak yang pertama. dia setelah sekolah dasar di dekat tempat kediamanya memutuskan untuk langsung mondok di tempat dekat kakaknya mondok dan tidak meneruskan SLTP, akan tetapi waktu demi waktu berjalan dan pemikirannya berubah. setelah satu tahun nyantri dia berubah pikiran dan minta izin kepada orang tuanya untuk melanjutkan sekolah lagi, mendengar pernyataan itu orang tuanya senang sekali karena anak yang kedua tersebut mempunyai keinginan untuk sekolah. setelah direstui dia pun langsung mendaftar di sekolah yang dia inginkan tersebut. yang mengherankan, dia sudah berhenti sekolah satu tahun, tetapi sama pihak sekolahan diperbolehkan masuk langsung di kelas dua SLTP. Setelah lulus SLTP dia terus meneruskan SLTA dengan tetap mondok dan setelah lulus SLTA dilanjutkan merantau ke malang untuk meneruskan ke perguruan tinggi.
dengan keadaan perekonomian yang memprihatinkan tersebut masyarakat sekitar juga kurang akan pentingnya pendidikan untuk putra-putrinya. mereka lebih memntingkan fasilitas-fasilitas seperti montor, televisi, dan lain sebagainya.
walau keadaan yang mencekam seperti itu tidak semua masyarakat terlena dengan keberadaan ekonomi yang lemah. buktinya ada salah satu keluarga yang sangat sederhana, tetapi keluarga tersebut sangat peduli dengan pendidikan putra-putrinya dan selalu mengorbankan apapun yang mereka punyai demi bisa menyekolahkan putra-putrinya. menurut beliau (ayah dan ibu dari keluarga tsb) pendidikan itu sangat penting untuk menyadarkan dan membaikkan seorang anak, dan pendidikan itu niatnya yang baik dan jangan mengharapkan untuk mencari pekerjaan belaka, tapi niatillah dengan iklas mencari ridho allah dan untuk menghilangkan kebodohan umat manusia.
dengan kondisi perekonomian yang mencekik keluarga tersebut tidak lalu menyerah dengan keadaan, tetapi bangkin dengan keadaan tersebut. ini terbukti dari pendidikan putra-putrinya yang lumayan baik dari pada keluarga yang lain, bahkan lebih baik dari keluarga yang diatasnya.
anak pertamanya yang pada waktu itu juga sudah bisa menamatkan SLTP dan sesudah lulus SLTP dia meneruskan untuk mondok pesantren disalah satu daerah yang dijuluki kota santri, karena di daerah tersebut banyak sekali santri-santri dan juga pondok pesantren-pondok pesantren hingga empat tahun, dan setelah itu dijodohkan dengan salah satu santri di pondok tersebut.
anak yang kedua lebih tinggi pendidikanya dari pada anak yang pertama. dia setelah sekolah dasar di dekat tempat kediamanya memutuskan untuk langsung mondok di tempat dekat kakaknya mondok dan tidak meneruskan SLTP, akan tetapi waktu demi waktu berjalan dan pemikirannya berubah. setelah satu tahun nyantri dia berubah pikiran dan minta izin kepada orang tuanya untuk melanjutkan sekolah lagi, mendengar pernyataan itu orang tuanya senang sekali karena anak yang kedua tersebut mempunyai keinginan untuk sekolah. setelah direstui dia pun langsung mendaftar di sekolah yang dia inginkan tersebut. yang mengherankan, dia sudah berhenti sekolah satu tahun, tetapi sama pihak sekolahan diperbolehkan masuk langsung di kelas dua SLTP. Setelah lulus SLTP dia terus meneruskan SLTA dengan tetap mondok dan setelah lulus SLTA dilanjutkan merantau ke malang untuk meneruskan ke perguruan tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar